3 Skrining untuk Deteksi Dini Kanker Serviks

Bila diibaratkan, HPV (Human Papillomavirus) itu seperti siput alias slow motion. Dari munculnya infeksi hingga akhirnya menjadi kanker serviks butuh waktu sampai 7, 10, bahkan belasan hingga 20 tahun. Sebenarnya, ini keuntungan besar bagi kita, Ladies! Iya, kita jadi punya kesempatan untuk menemukan kanker mematikan ini sedini mungkin.

Sayangnya, cakupan skrining di Indonesia hanya sekitar 11%. Padahal dengan skrining rutin saja, insiden kanker serviks bisa turun drastis loh. Contohnya di Amerika Serikat. Di Negeri Paman Sam itu, kanker serviks turun dari peringkat 1 menjadi peringkat 3 kanker pada perempuan dalam 20 tahun, berkat skrining dengan Pap smear.

Berikut ini tiga skrining yang bisa kamu lakukan untuk mendeteksi kaker serviks secara dini.

  1. Pap smear

Di Indonesia, cakupan Pap smear hanya 7%. Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil sampel (contoh) lendir pada permukaan serviks, untuk kemudian dilihat di lab, apakah ada sel-sel abnormal. Kalau kamu sudah aktif berhubungan seksual, perlu Pap smear tiap 1-3 tahun sekali, sejak usia 21 hingga usia 65 tahun.

Setelah usia 30 dan hasil Pap smear normal dalam 3 pemeriksaan berturut-turut, maka cukup periksa 5 tahun sekali, dikombinasi dengan tes DNA HPV (co-testing). (Baca: Sudah Remaja Tapi Belum Vaksin HPV, Apa yang Harus Dilakukan?)

  1. Tes IVA

Harus diakui, Pap smear relatif mahal, dan mungkin tidak tersedia di semua daerah. Jangan khawatir, Ladies. Ada pemeriksaan yang jauh lebih murah (atau gratis!), dan bisa dilakukan di Puskesmas. Inilah IVA atau inspeksi visual asam asetat. Bahan yang digunakan hanyalah cuka yang dilarutkan dengan air steril.

Prosesnya sangat mudah, tidak melibatkan pemeriksaan lab. Jadi, larutan cuka akan ditempelkan ke permukaan serviks oleh petugas kesehatan, lalu didiamkan selama dua menit. Bila ada kelainan misalnya lesi pra kanker, serviks akan tampak putih-putih. Ini disebut IVA positif, yang bisa segera diobati dengan krioterapi.

Lakukanlah pemeriksaan IVA satu tahun sekali sejak aktif berhubungan seksual, hingga berusia 65 tahun. Ini sudah bisa dilakukan di >3.700 Puskesmas Seluruh Indonesia. (Baca: Hindari Stigma: Kanker Serviks Karena Pergaulan Bebas)

  1. Tes DNA HPV

Metode pemeriksaan dengan tes HPV DNA mirip dengan Pap smear. Bedanya, setelah sampel diambil, kemudian di lab dilihat apakah ada DNA HPV di sana. Ini disarankan bagi yang sudah berusia 30 tahun ke atas, co-testing dengan Pap smear.

Bagaimana dong kalau Pap smear normal tapi tes DNA positif? Ada dua pilihan. Mengulang co-testing setahun kemudian, atau langsung mengulang tes DNA khusus untuk HPV tipe 16 dan 18, dua tipe HPV yang paling sering menyebabkan kanker serviks. Bila hasil ini positif, maka dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan kolposkopi. Namun bila negatif, ulangi co-testing satu tahun mendatang.

Biayanya memang cukup mahal. Namun bila hasilnya negatif, cukup diulang tiap 5 tahun kok. Tetap lakukan pemeriksaan meski sudah vaksinasi HPV ya. Apa skrining pilihanmu, sesuaikan dengan kondisi, kenyamanan, dan pastinya budget. Yang penting, periksakan diri secara rutin. (Baca: Satu Vaksin HPV, Cegah Empat Jenis Kanker)