Kanker Serviks itu musuh, dan saya abdikan hidup saya untuk memeranginya.

August 14, 2017 3:09 am by. KICKS

Cerita saya berawal di bulan Maret 2001, saat saya mulai menyadari adanya keanehan pada siklus haid. Saat itu saya hanya menduga bahwa hal tersebut disebabkan oleh tanda-tanda menopause atau gangguan hormon. Namun situasi ini berlanjut ke bulan-bulan berikutnya sampai pada akhirnya di bulan Juni 2001, siklus menstruasi saya benar-benar tidak normal dengan pendarahan tanpa henti. Saya tidak bisa menjalankan tes Pap karena kondisi saya yang sedang mengalami pendarahan sehingga saya akhirnya meminta rekan sejawat saya untuk melakukan operasi pengangkatan rahim guna pemeriksaan lebih lanjut terhadap apa yang saya idap.

Saya memilih tanggal 17 Agustus 2001 sebagai tanggal operasi, seakan memberi pernyataan bahwa ini adalah hari dimana saya memerdekakan diri dari jajahan rasa sakit.

Dan saya dihadapkan oleh pemeriksaan patologi anatomi yang dijalankan setelah operasi yang menyatakan bahwa saya mengidap Kanker Rahim stadium 2B dan Kanker Serviks stadium 2A.

Hal pertama yang saya pikirkan saat itu, sungguh saya sangat beruntung. Sungguh beruntung karena saya diberikan Kanker Serviks bersanding dengan Kanker Rahim dengan stadium lebih tinggi, karena Kanker Rahim itulah yang memicu pendarahan pada rahim saya. Kalau saat itu tidak ada pendarahan, mungkin saya tidak akan pernah meminta rekan saya melakukan operasi pengangkatan rahim. Dan apabila tidak ada operasi, saya tidak akan tahu bahwa saya sedang mengidap Kanker Serviks dan mungkin saya baru akan mengetahuinya nanti dari pendarahan yang diakibatkan Kanker Serviks yang berarti sudah mencapai Stadium 3 dan artinya semakin kecil harapan saya untuk sembuh.

Banyak orang bertanya-tanya, kenapa saya yang berprofesi sebagai dokter kandungan yang harusnya sangat mengerti tentang kanker serviks bisa tertular?

Jawaban saya : karena memang siapa saja dapat tertular! Tanpa kecuali! Tanpa memandang profesi, gender, usia.

Pola hidup sehat pun nyatanya tidak bisa menyelamatkan saya. Saya mungkin sudah terpapar virus HPV sekian lama tanpa saya ketahui, namun tubuh saya gagal menangkalnya saat saya terserang demam berdarah di bulan November tahun 2000 yang mengakibatkan tubuh saya melemah dan “membuka jalan” untuk virus berkembang.

Jadi daripada bertanya-tanya, saat itu yang saya lakukan adalah mencoba ikhlas, menerima, dan meminta dukungan dari keluarga karena memang ini yang harus saya jalani.

2 minggu setelah operasi, saya rutin menjalani radiotherapy dan chemotherapy. Berulang kali saya ingin bolos saat menjalani proses ini karena bosan dengan rasa sakit dan derita yang dirasakan selama terapi, tapi suami dan anak-anak untungnya bersikap tegas dan membesarkan hati saya untuk sembuh. Hingga akhirnya di tahun 2006, saya dinyatakan sembuh.

Tahun 2007, adalah tahun dimana vaksin HPV pertama kali masuk ke Indonesia. Dan tanpa pikir panjang, meski saya sudah dinyatakan sembuh, saya mendaftar untuk mendapatkan vaksin itu bersama dengan seluruh anggota keluarga termasuk suami saya.

Saat itu, vaksin masih diperuntukkan hanya untuk perempuan berusia 9 hingga 26 tahun, sehingga sebetulnya saya, suami dan anak laki-laki saya belum diwajibkan untuk menerima vaksin tersebut, dan belum terbukti manfaatnya untuk kami. Tapi itu tidak menghalangi niat saya untuk melindungi diri dan keluarga. Hari itu saya menjadi orang pertama di Indonesia yang menerima vaksin HPV.

10 tahun berlalu dari saat saya menerima vaksin HPV tersebut, dan penelitian di ilmu kedokteran terus berkembang hingga kini vaksin tersebut terbukti memberi manfaat perlindungan yang sama untuk perempuan hingga usia 55 tahun, dan juga laki-laki. Dan diberikan dengan harga yang lebih murah pula daripada pertama kali vaksin itu diluncurkan di Indonesia. Dan pastinya jauh lebih murah bila dibandingkan biaya yang harus saya keluarkan untuk menjalani berbagai macam terapi penyembuhan.

Dibandingkan dengan diri saya yang saya anggap penuh keberuntungan ini, bisa dikatakan Anda semua jauh lebih beruntung karena saat ini informasi tentang kanker serviks jauh lebih banyak dan lebih lengkap dan mudah dicari, serta sudah adanya metode pencegahan yang lebih mumpuni.

Jadi apabila Anda sudah diberikan kemudahan dan keberuntungan yang begitu rupa, apa yang membuat Anda harus menunggu untuk mencegahnya?

Irene Christiana fr. Arzt, spOG saat ini masih berpraktek di Jakarta sebagai dokter obstetri dan ginekologi, dalam keadaan sehat bersama suami, 4 anak serta menjadi nenek untuk 1 orang cucu.

Chris, atau biasa dipanggil Mami, sejak didiagnosa menderita kanker serviks terus proaktif hingga kini menyebarkan awareness tentang virus HPV dan kanker serviks kepada para pasiennya dan juga melalui acara publik.



Jika Anda memiliki pertanyaan seputar kanker serviks dan pencegahannya, Anda bisa mengirimnya ke koalisicegahkankerserviks@gmail.com