Persiapan Vaksin HPV Pertama Kali Bagi Anak

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, vaksin HPV paling baik diberikan pada saat anak perempuan berusia 9-13 tahun. Jadi, bukan hanya perempuan dewasa saja yang memerlukan imunisasi penting yang satu ini. Namun, apa saja yang perlu diperhatikan sebelum memberikan vaksin HPV pada anak? Simak penjelasan berikut.

Buat apa memberikan vaksin HPV pada anak?

Sudah ada sejumlah penelitian di seluruh dunia yang membuktikan bahwa vaksin HPV sangat efektif mencegah infeksi HPV, terutama jika diberikan sebelum seseorang perempuan dan laki-laki aktif secara seksual.

Itulah mengapa anak perempuan dan laki-laki diimbau untuk mendapatkan vaksin ini pada usia sekolah, tepatnya mulai kelas 5 SD. Rentang usia ini dianggap ideal karena respon sistem kekebalan tubuh anak sedang berada dalam tahap terbaiknya. Inilah yang membuat tubuh mereka mampu mengembangkan antibodi yang kuat terhadap virus HPV, bahkan untuk jangka panjang.

Baca Juga : 3 Gejala Infeksi HPV Pada Bayi Dan Anak-anak

Selain itu, pertimbangan imunisasi HPV untuk mencegah kanker serviks pada anak dilihat dari segi kepraktisan. Jika imunisasi dilakukan pada anak usia sekolah, vaksin ini hanya diberikan dalam dua dosis. Dosis kedua diberikan setelah jangka waktu enam bulan hingga satu tahun setelah dosis pertama.

Ada 3 Langkah yang harus disiapkan pada vaksin HPV pertama anak?

Vaksin HPV pada anak sudah dinyatakan aman. Akan tetapi, Anda sebaiknya memastikan beberapa poin penting berikut sebelum melakukan imunisasi.

1. Anak harus dalam kondisi sehat

Dokter atau perawat yang akan memberikan vaksin HPV akan memastikan seperti apa kondisi kesehatan anak. Jika saat pemeriksaan kesehatan anak sedang sakit, seperti mengalami demam, flu, batuk, pilek, atau diare, maka imunisasi sebaiknya ditunda dulu.

Imunisasi ini tidak akan ampuh bekerja kalau kondisi tubuh tidak prima. Itu sebabnya, penting bagi Anda untuk memastikan anak dalam keadaan sehat sehari sebelum melakukan vaksinasi HPV.

2. Beri tahu riwayat kesehatan anak

Tubuh setiap anak berbeda. Anak mungkin saja mengalami reaksi khusus setelah imunisasi diberikan. Karena itu, jangan lupa beri tahu dokter soal riwayat kesehatan anak, termasuk alergi terhadap obat-obatan atau bahan kimia tertentu.

Ini penting supaya Anda bisa mencegah berbagai efek samping vaksin HPV pada anak serta membantu dokter memberikan penanganan yang tepat, sesuai kebutuhannya.

3. Jangan langsung pulang

Setelah anak mendapatkan vaksin, sebaiknya Anda dan anak menunggu kira-kira 30 menit di klinik atau rumah sakit tempat mendapatkan vaksin untuk memantau ada atau tidaknya reaksi tertentu setelah divaksinasi. Jika anak memunculkan reaksi yang tidak diinginkan setelah divaksin, anak Anda bisa langsung ditangani oleh tim medis.

4. Perhatikan berbagai efek samping vaksin

Vaksin HPV sudah dijamin aman. Namun, anak Anda mungkin saja mengalami efek samping setelah divaksin. Efek samping ini umumnya ringan dan hanya bersifat sementara sehingga Anda tidak perlu khawatir.

Efek samping vaksin HPV sama dengan jenis imunisasi lainnya. Misalnya nyeri serta kemerahan dan/ atau bengkak di tempat suntikan. Beberapa anak mungkin juga akan mengalami demam, sakit kepala, lemas, nyeri sendi atau otot, mual, muntah, atau sakit perut.

Reaksi alergi pada vaksin yang mengancam nyawa, misalnya yang membuat anak tidak bisa bernapas dan tekanan darah turun drastis, adalah kasus yang langka. Kondisi ini bersifat fatal dan harus segera mendapatkan bantuan medis darurat.

Bila anak Anda mengalami satu dari beberapa gejala yang sudah disebutkan di atas, sebaiknya pastikan ia beristirahat yang cukup. Anda juga bisa memberikan obat pereda nyeri seperti paracetamol, tapi bicarakan dulu dengan dokter soal penggunaannya.

Baca Juga : Lokasi Vaksin