Fakta Utama tentang Kanker Serviks dan Human Papilloma Virus (HPV) di Indonesia

Berdasarkan data International Agency Research on Cancer dari World Health Organization (WHO) tahun 2012, kanker leher rahim atau lebih dikenal sebagai kanker serviks merupakan salah satu kanker penyebab kematian terbanyak perempuan di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Setiap tahunnya, sebanyak 20.928 perempuan Indonesia terdiagnosis kanker serviks dan 9.498 diantaranya meninggal karena penyakit ganas ini. Berdasarkan data GLOBOCAN tahun 2012, Indonesia memiliki tingkat kematian, insiden, dan prevalen di Indonesia merupakan yang tertinggi di antara negara-negara di Asia Tenggara.1,2 Lebih dari 1 perempuan di Indonesia meninggal setiap jam karena kanker serviks dan terdapat 58 kasus baru yang dilaporkan setiap harinya.

Data kanker serviks dari rumah sakit di Indonesia (2009-2016) terbanyak dilaporkan dari RS Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta yaitu sebanyak 4.072 kasus, diikuti oleh RS dr. Soetomo Surabaya 2.596 kasus.3

Data nasional (2009-2016) menunjukkan bahwa mayoritas penderita kasus kanker serviks adalah perempuan dewasa usia 35-55 tahun, diikuti usia 56-64 tahun, usia >65 tahun, dan dewasa muda usia 18-35 tahun, berturut-turut sebanyak 7013, 2718, 1105, dan 453 kasus. Namun, dilaporkan juga adanya 33 kasus kanker serviks pada kelompok remaja usia 0-17 tahun.

Seperti penyakit kanker lain, stadium penyakit sangat penting untuk diketahui agar pemilihan terapi lebih tepat, serta kemungkinan perkembangan penyakit (prognosis), dan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) dapat diketahui sebelum terlambat. Namun sayangnya, sebagian besar pasien kanker serviks baru datang berobat setelah mengalami kanker serviks stadium lanjut. Dari semua kasus baru, sebanyak 70% kasus yang ditemukan adalah perempuan dengan kanker serviks stadium lanjut yang artinya semakin sulit untuk disembuhkan.2,3

Tentang Kanker Serviks dan HPV

Apa itu Kanker Serviks?4,5
Kanker Serviks adalah kanker yang muncul pada leher rahim . Serviks adalah salah satu bagian dari rahim Serviks yang terdiri dari mulut dan leher rahim.

Apa penyebab Kanker Serviks?

Kanker serviks bukan penyakit keturunan, melainkan penyakit yang terjadi karena perubahan sel normal serviks yang diakibatkan oleh sebuah virus yang disebut Human Papilloma Virus (HPV) atau infeksi HPV.

Ada sekitar 130 tipe HPV, sebagian bersifat ganas atau bisa menimbulkan kanker, seperti kanker bibir kemaluan dan kanker serviks.  Ada juga yang bersifat tidak ganas, umumnya menyebabkan kutil kelamin.

Penyakit kanker serviks sebagian besar disebabkan oleh HPV tipe 16 dan 18.

Siapa saja yang dapat terinfeksi HPV?5

Infeksi HPV bisa terjadi pada siapa saja tanpa memandang usia, bahkan remaja atau anak-anak yang belum aktif secara seksual pun bisa terpapar virus ini.

Virus HPV juga tidak memandang gender – bahkan 8 dari 10 pria dan perempuan dapat terinfeksi HPV yang ditularkan melalui sentuhan kulit ke kulit.5 Laki-laki dapat menderita penyakit HPV seperti kanker mulut, kanker anus, kanker penis dan penyakit kutil kelamin (genital warts).

Banyak orang yang terpapar virus HPV dalam tubuhnya tidak merasakan adanya tanda-tanda atau gejala, sehingga mereka dapat menularkan virus tanpa menyadarinya.

Kabar baiknya, tidak semua perempuan yang terinfeksi HPV akan menderita kanker serviks.  Kekebalan tubuh yang baik mampu membersihkan infeksi HPV.  Namun, daya tubuh dapat ditingkatkan dengan vaksinasi HPV agar dapat secara efektif membentuk antibodi (sistem kekebalan) yang cukup dalam tubuh untuk melawan infeksi virus HPV

Apakah perempuan dengan sistem imun tubuh yang kuat dapat terinfeksi HPV?

Sistem imun tubuh yang baik dapat membersihkan infeksi HPV.  Namun, penelitian menunjukkan bahwa ternyata hanya 50% perempuan yang memiliki kekebalan terhadap HPV dan kekebalan tersebut ternyata tidak dapat melindungi terhadap infeksi berulang, sehingga dapat berkembang menjadi kanker dalam kurun waktu beberapa tahun.

Apakah infeksi HPV dapat terjadi pada remaja?

HPV dapat terkena pada usia remaja rata-rata 9-15 tahun karena pada masa remaja sejalan dengan masa pertumbuhan mereka, struktur organ serviks lebih rentan terhadap infeksi HPV.

Kelompok usia mana yang paling rentan terhadap infeksi HPV?

Separuh dari perempuan penderita kanker serviks didiagnosa ketika usia produktifnya, yakni antara usia 35-55 tahun.

Apakah infeksi HPV dapat sembuh?

Infeksi HPV seperti kutil kelamin dapat ditangani, namun tidak secara langsung menghilangkan virus penyebabnya. Pada umumnya infeksi HPV akan sering muncul kembali jika tidak memiliki antibodi (sistem kekebalan) yang cukup dalam tubuh untuk melawan infeksi virus HPV.

Apakah menikah muda bisa meningkatkan risiko kanker serviks?

Ya, jika hubungan seksual dilakukan pada usia dini, dimana struktur  serviks masih belum matang, maka menjadi lebih rentan terhadap infeksi HPV yang dapat berkembang menjadi kanker serviks. Lapisan terluar dinding serviks belum matang terbentuk sehingga saat berhubungan seksual mudah terjadi perlukaan kecil  sebagai tempat masuknya virus.

Apakah infeksi HPV dapat ditularkan oleh ibu ke bayinya?

Kutil kelamin pada wanita hamil berisiko tinggi terhadap bayinya. Bayi tersebut dapat terpapar virus HPV dan mengakibatkan penyakit kutil di saluran napas, sehingga menganggu pernapasan dan dapat mengakibatkan kematian.

Pencegahan Kanker Serviks

Apakah kanker serviks dapat dicegah?7

Menurut WHO, ada dua tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kanker serviks.

Tindakan pencegahan primer atau yang terpenting untuk mencegah terjadinya kanker serviks adalah dengan melakukan vaksinasi HPV. Vaksinasi HPV membuat tubuh membentuk antibodi terhadap virus HPV, sehingga virus yang masuk akan mati dan tidak sampai menimbulkan kanker serviks.

Penyebaran kanker serviks juga dapat dicegah dengan tindakan pencegahan sekunder yaitu melalui deteksi dini dengan melakukan skrining dengan IVA atau tes Pap. Pap smear dan IVA bertujuan untuk mengetahui sedini mungkin ada/tidaknya ketidaknormalan pada serviks.

Dengan hasil yang dapat terlihat dari tes Pap, apabila  terdapat ketidaknormalan maka dapat dilakukan perawatan atau pemeriksaan lanjutan dan penanganan semenjak dini. Hal ini sangat meningkatkan angka kesembuhan, apalagi pada mereka yang terdeteksi pada saat masih berupa stadium pra-kanker (sebelum menjadi kanker).

Lebih lengkap mengenai cara pencegahan kanker serviks dapat dibaca di sini

Apakah memakai kondom bisa mencegah penyakit HPV?

HPV dapat berpindah melalui kontak kulit ke kulit (skin to skin). Artinya, meskipun sebagian besar HPV menular melalui hubungan seksual, tetapi dapat juga secara non seksual, yaitu melalui sentuhan kulit. Pemakaian kondom dapat meminimalisasi penularan virus tapi tidak bisa mencegah sepenuhnya karena bagian tubuh lainnya bisa terkena HPV.

Pengobatan Kanker Serviks

Seperti kanker lainnya, kanker serviks dapat diobati dengan beberapa cara7. Dokter akan mempertimbangkan sejumlah hal sebelum memilih pengobatan yang tepat, seperti:

  • Ukuran lesi kanker, tingkat keganasan dan bagaimana penyebarannya
  • Usia pasien dan status kesehatannya
  • Pilihan pasien

Tiga metode utama pengobatan kanker serviks adalah operasi, terapi radiasi, dan kemoterapi. Pengobatan dapat terdiri dari dua atau lebih metode tersebut. Rencana perawatan juga akan mencakup kunjungan tindak lanjut khusus dengan profesional kesehatan (dokter). Yang termasuk dalam tindak lanjut kunjungan antara lain sinar- x, biopsi, tes darah atau pemeriksaan lainnya.

Mitos dan Fakta seputar HPV dan Kanker Serviks

Mari kita pelajari fakta mengenai kanker serviks untuk menepis mitos yang cenderung menyesatkan.

1. Mitos : HPV adalah virus yang langka dan tidak mudah untuk ditemui di tempat umum.

Fakta : HPV adalah virus yang sangat umum. 8 dari 10 pria dan wanita akan terinfeksi oleh HPV setidaknya sekali dalam seumur hidupnya. HPV mudah ditemui dan mudah juga untuk ditularkan. HPV dapat ditularkan melalui berbagai jenis kontak kulit dan kelamin, bahkan dapat ditularkan tanpa melalui hubungan seksual1. Menurut fact sheet yang dikeluarkan oleh CDC, sekitar 79 juta orang di Amerika saat ini terinfeksi oleh HPV, dengan sekitar 14 juta kasus baru yang dilaporkan setiap tahunnya. HPV sangat umum, kebanyakan wanita dan pria yang aktif secara seksual akan terinfeksi oleh setidaknya satu tipe HPV pada masa hidupnya.2

2. Mitos : Kanker serviks hanya terjadi di negara berkembang.

Fakta : Kanker serviks adalah penyakit yang bisa menyerang perempuan di semua negara, maju atau sedang berkembang. Namun demikian, kanker serviks memang lebih banyak terjadi di negara-negara yang program skriningnya (penapisan) tidak memadai, serta kesadaran untuk melakukan vaksinasi HPV yang  masih rendah.3,4 Di Amerika Serikat telah terjadi penurunan besar dalam diagnosis kanker serviks selama 20 tahun terakhir karena adanya Pap Smear (tes Pap) dan program vaksinasi HPV nasional.5

3. Mitos : Seks bebas (berganti-ganti pasangan) membuat wanita lebih berisiko terkena kanker serviks.

Fakta : Wanita yang memiliki banyak pasangan seksual memiliki faktor risiko yang lebih besar untuk terkena kanker serviks. Namun, wanita yang hanya memiliki satu pasangan juga dapat terkena kanker serviks. Tidak ada data yang dapat menunjukkan secara pasti mengapa seorang wanita dapat terkena kanker serviks dan yang lain mungkin tidak.3

4. Mitos : Jika sudah terkena HPV, maka Anda sudah pasti akan menderita kanker serviks.

Fakta : Sistem imun tubuh yang baik dapat membersihkan infeksi HPV, namun nyata-nya, hanya sekitar 50% orang yang terkena HPV, mampu untuk menghasilkan antibodi yang cukup untuk membersihkan virus tersebut. Infeksi HPV yang menetap dapat menyebabkan kanker serviks dan kanker-kanker lain seperti kanker anus, penis, vagina atau kelainan yang jinak disebut kutil kelamin pada pria dan wanita. Kutil kelamin tidak mematikan, namun memberikan beban kesehatan dan emosional bagi penderitanya. Ada banyak faktor yang berperan dalam perkembangan kanker serviks. Melakukan vaksinasi dan tes serviks secara teratur (Pap smear dan tes diagnostik lainnya) untuk mendeteksi perubahan serviks yang abnormal yang disebabkan oleh HPV sangat penting dalam mencegah terjadinya kanker serviks.6,7

5. Mitos : Kanker serviks tak dapat dicegah.

Fakta : Kanker serviks merupakan salah satu jenis kanker yang paling bisa dicegah. Sebuah cara yang sangat efektif untuk mendeteksi dini kanker serviks adalah pengujian Pap smear secara teratur. Pap smear adalah tes skrining untuk mengidentifikasi wanita yang mungkin berisiko tinggi mengalami perubahan pra-kanker atau kanker serviks.5 Pap smear bukanlah tes diagnostik, sehingga dianjurkan untuk melakukan tes ini secara teratur.

Namun, metoda pencegahan primer yang dianjurkan oleh WHO adalah pemberian vaksin HPV. Vaksin ini memberikan perlindungan terhadap strain HPV risiko tinggi yang diketahui menyebabkan kanker serviks pada wanita. Vaksin tersebut saat ini telah disetujui di berbagai negara, termasuk Indonesia, pada wanita usia 9-45 tahun dan laki-laki 9-26 tahun.7

6. Mitos : Kondom dapat memberikan 100 persen perlindungan terhadap HPV.

Fakta : Kondom hanya dapat memberikan perlindungan terbatas terhadap HPV, tapi bukan sebesar 100 persen. HPV dapat ditularkan melalui kontak genital dan/atau kontak antar-kulit dengan orang yang terinfeksi. Jadi penetrasi seksual bukanlah satu-satunya cara kontak dengan virus ini. Apabila kondom dipakai saat berhubungan seksual, hanya organ kelamin pria saja (penis) yang terlindungi. Sementara daerah sekitar dari alat kelamin yang dibiarkan terbuka masih bisa kontak dengan vagina selama hubungan seksual.2

Sebuah studi HPV di University of Washington menemukan bahwa kondom dapat mengurangi resiko penularan HPV hingga 70 persen. Meskipun tidak memberikan perlindungan lengkap terhadap HPV, kondom masih sangat penting untuk praktik hubungan seks yang aman guna mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dan penyakit menular seksual lainnya.8

7. Mitos : Semua wanita membutuhkan Pap smear setiap tahun untuk penapisan kanker serviks

Fakta : Pedoman skrining kanker serviks yang telah diperbarui tidak menganjurkan semua wanita melakukan Pap smear setiap tahun. Frekuensi tes tergantung pada usia pada hasil tes sebelumnya, atau usia ketika seorang wanita pertama kali melakukan hubungan seksual. Papsmear yang pertama kali dianjurkan 3 tahun setelah melakukan hubungan seksual pertama kali. Jika sampai usia 30 tahun pap smear anda selalu normal, maka sesudah itu Anda hanya perlu melakukan 2-3 tahun sekali. Namun bila papsmear anda dinyatakan tidak normal, maka papsmear dilakukan sesuai anjuran dokter Anda.5

8. Mitos : Wanita di atas usia produktif tak perlu melakukan Pap smear

Fakta : Semua wanita dianjurkan untuk melakukan tes Pap smear secara berkala sampai dokter memutuskan tes itu tak perlu lagi dijalani. Hal ini biasanya terjadi ketika seorang wanita sudah berusia 65 tahun dan selama tes Pap tidak menunjukkan hasil abnormal dalam 10 tahun terakhir. Jika Anda tidak yakin kapan harus berhenti melakukan Pap smear secara teratur, bicarakan hal ini dengan dokter.5

9. Mitos : Wanita yang telah divaksinasi HPV bisa menghentikan Pap smear

Fakta : Pap smear secara teratur masih diperlukan meski Anda telah melakukan vaksinasi HPV. Meski vaksin ini dimaksudkan untuk mencegah infeksi HPV, namun tidak dapat menggantikan Pap smear rutin.7

Referensi:

    1. Weaver BA. Epidemiology and natural history of genital human papillomavirus infection J Am Osteopath Assoc. 2006;106(3)(suppl 1):S2–S8
    2. Centre for Disease Control and Prevention. Genital HPV infection Fact Sheet . Available at : http://www.cdc.gov/std/HPV/STDFact-HPV.htm Accessed on July 25th, 2017
    3. Koutsky L. Epidemiology of genital human papillomavirus infection.Am J Med. 1997;102(5A):3–8
    4. Human papillomavirus and HPV vaccines: technical information for policy-makers and health professionals, 2007. World Health Organization website. http://whqlibdoc.who.int/hq/2007/WHO _IVB_07.05_eng.pdf Accessed March 12, 2013
    5. The American Cancer Society. Guidelines for the Prevention and Early Detection of Cervical Cancer 2016. Available at https://www.cancer.org/cancer/cervical-cancer/prevention-and-early-detection/cervical-cancer-screening-guidelines.html Accessed on July 25th, 2017
    6. Forman D et al. Vaccine. 2012;30(Suppl 5):F12 23
    7. WHO Position Paper 2017. Available at http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/255353/1/WER9219.pdf?ua
      Accessed on July 25th, 2017


Jika Anda memiliki pertanyaan seputar kanker serviks dan pencegahannya, Anda bisa mengirimnya ke koalisicegahkankerserviks@gmail.com