Hindari Stigma: Kanker Serviks Karena Pergaulan Bebas

Dahulu kanker serviks merupakan sebuah penyakit yang tergolong baru, sehingga masyarakat belum mendapatkan  pengetahuan yang cukup mengenai penyakit ini dan juga upaya pencegahannya. Terlebih lagi dengan adanya berbagai stigma dan ketakutan di kalangan masyarakat yang membawa  anggapan yang salah  mengenai perawatan kanker serviks. Beruntung bagi generasi muda saat ini, informasi mengenai kanker serviks cukup banyak dan mudah di akses sehingga tindakan-tindakan pencegahan dapat lebih mudah didapatkan. Hal ini sungguh penting karena kanker serviks dapat menyerang siapapun tanpa memandang usia, baik yang sudah berkeluarga maupun yang belum. Semoga cerita saya kali ini bisa menjadi referensi dan inspirasi bagi para pembaca, bagaimana saya divonis terkena kanker serviks dan berhasil menjadi survivor selama 35 tahun.

Pertama kali,saya terdiagnosa kanker serviks pada bulan Agustus, tahun 1982. Pada saat itu saya berusia 32 tahun. Pada mulanya saya tidak menyangka akan  bisa terkena penyakit berat ini karena memang setiap kali habis datang bulan saya sering mengalami keputihan yang cukup normal.  Akan tetapi pada saat itu saya mengalami keputihan berkepanjangan. Setelah dua minggu, keputihan deras masih saja berlanjut dan saya merasakan sakit di punggung bagian bawah. Pada saat itu suami saya sedang berada di luar negeri, tetapi saya tetap memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Setelah saya melakukan pap smear, saya melakukan kesalahan dengan menunda untuk mengambil hasil karena Saya yakin bahwa hasilnya akan baik-baik saja. Hasil tes yang harusnya saya ambil dalam waktu seminggu, saya tunda hingga tiga bulan. Dokter-pun pernah memarahi saya, kenapa saya saat itu terlambat dalam mengambil hasilnya? Dokter mengatakan jika saya mengambil hasilnya sesuai jadwal yang ditentukan maka, saya  baru akan mengalami gejala kanker serviks. Akan tetapi karena saya terlambat dalam mengambil hasil pemeriksaan, maka kanker di dalam rahim saya itu telah berubah menjadi ganas.

Saat itu dokter tidak menganjurkan saya untuk melakukan operasi dikarenakan umur saya yang   tergolong muda, oleh karena itu saya diobati melalui proses penyinaran (kemoterapi) berkala selama dua minggu sekali. Saya sempat bertanya-tanya pada diri saya, kenapa saya bisa terkena kanker serviks? apakah karena tindakan yang  pernah saya lakukan sebelumnya? Apakah karena saya menkonsumsi obat-obatan atau jamu-jamuan yang tidak bersih?  Tetapi saya hanya bisa pasrah dan menjalankan apa yang dikatakan oleh Dokter, dan Alhamdulillah saya bisa melewati itu semua tanpa melakukan operasi.

Saya ingat sekali pernyataan dokter yang menguatkan hidup saya, yaitu ketika beliau menyuruh saya untuk hidup seperti biasa, jangan pernah menganggap diri saya sakit. Dokter juga mengingatkan untuk selalu menjaga kesehatan melalui pola makan sehat, istirahat yang cukup dan  dan banyak berolahraga.  Melalui nasehat dokter dan pengalaman saya, saya mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya yang terpenting untuk berjuang melewati ini adalah tetap merasa senang, dan janganlah merasa bahwa kita  tidak punya harapan  lagi.  Tetaplah positif dalam menjalani kehidupan. Untuk dapat sembuh, memang membutuhkan proses yang panjang. Proses penyinaran atau kemoterapi yang saya lakukan juga membutuhkan waktu yang sangat lama. Akan tetapi dengan dukungan suami dan anak-anak, saya bisa melewati proses berat itu. Pengobatan dengan penyinaran saat itu tentunya berbeda dengan zaman sekarang. Dengan kemajuan teknologi, saya yakin prosesnya kini akan lebih singkat.

Bagi perempuan – perempuan Indonesia yang mungkin masih banyak yang tidak tahu harus bercerita ke mana dan siapa, karena takut dengan pandangan orang-orang, ketahuilah bahwa penyakit ini bisa menyerang siapapun. Saya menyadari bahwa masih banyak yang  memiliki persepsi bahwa penyakit kanker serviks diakibatkan oleh pergaulan bebas. Ini merupakan anggapan yang salah, penyakit ini tidak memandang siapapun, semua orang bisa terkena penyakit ini. Carilah orang-orang yang tepat untuk anda berbagi. Semenjak saya bergabung dengan komunitas Cancer Information and Support Center (CISC) ini, untuk bisa bertanya kepada sesama penderita dan juga para survivor. Jangan sampai Anda salah langkah dan mendapat informasi yang salah.

Dengan bergabung dengan CISC mata saya semakin terbuka dan melihat berbagai kondisi teman-teman pasien kanker serviks lainnya. Saya menjadi lebih bersyukur karena apa yang sudah saya alami, menjadi penyintas kanker serviks lebih dari tiga puluh tahun ternyata adalah sebuah anugerah yang luar biasa  Kami telah berjuang bersama dan berbagi informasi  sehingga kami merasa bersemangat dalam melawan kanker serviks.

Untuk mereka yang sudah berkeluarga lakukanlah tindakan pencegahan melalui tes pap smear dan mamografi secara teratur. Jika hasilnya negatif, segera lakukan vaksinasi HPV. Apabila hasil tes dinyatakan positif terhadap adanya sel abnormal pada lapisan serviks, maka tindakan terapi dapat dilakukan untuk mencegahnya menjadi kanker. Sedangkan bagi yang belum berkeluarga terutama yang masih remaja lakukanlah vaksinasi HPV sedini mungkin sebagai tindakan pencegahan yang paling utama, terutama karena efektifitas proteksi vaksin lebih tinggi pada usia remaja Yang terpenting adalah  jangan menunda-nunda,termasuk dalam pengambilan hasil tes.  Keterlambatan atau kelalaian kita dapat mengakibatkan efek yang  panjang dan berbahaya.

Terakhir, tidak ada yang lebih penting dari merasa bersyukur karena dengan itu , kita dapat merasa  atas segala peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan .

 

Interview Penyintas (Survivor) Kanker Serviks

Narasumber : Niniek Yumarwati

Umur : 66 tahun

Status : Menikah dengan empat anak dan delapan cucu

Dapatkan Notifikasi Artikel Terbaru!

Masukkan email kamu untuk mendapatkan pemberitahuan ketika ada artikel terbaru!