5 Fakta Kenapa Perempuan Indonesia Harus Vaksin HPV

Hari gini belum vaksinasi Human Papillomavirus (HPV)?!? Sebagai perempuan, rugi banget kalau kamu belum mendapatkan imunisasi pencegah penyakit penyebab kematian  no  2 terbesar pada perempuan Indonesia itu.

Di Indonesia, kanker serviks masih menjadi momok yang mengerikan. Siapapun bisa terkena, virus ini. Bahkan 8 dari 10 orang perempuan dan pria diperkirakan akan terinfeksi HPV selama hidup mereka.

Buat tahu lebih jauh kenapa perempuan harus Vaksin HPV, simak 5 Fakta yang disampaikan ahli ginekologi, dr Cindy Rani, SpOG-KFER dalam diskusi Koalisi Indonesia Cegah Kanker Serviks (KIKCS) "Cegah Kanker Serviks untuk Perempuan Indonesia Berkarya", di Level4 Plaza Indonesia pada peringatan Hari Kartini 21 April  lalu  :

  1. Virus HPV ada dimana-mana

Potensi orang terkena HPV bisa dari mana-mana. Tidak hanya bisa tertular dengan berganti-ganti pasangan seksual. Tapi bisa datang dari kontak non seksual (skin to skin kontak), bahkan virus HPV juga bisa ditularkan dari ibu ke anaknya (melalui jalan lahir).

  1. Kanker serviks ditemukan pada perempuan usia produktif

Kasus kanker serviks ada pada perempuan produktif usia 36-55 tahun dimana sebanyak 70% diketahui sudah dalam stadium lanjut. (Baca: Catat! Inilah Usia Rentan Infeksi HPV)

  1. Kanker serviks jadi "silent killer"

Data Globocan 2012 menyebut setiap hari ada 26 perempuan meninggal karena kanker serviks. Nah perjalanan virus HPV untuk jadi kanker butuh waktu diam dalam tubuh selama 5-10 tahun. Sehingga banyak perempuan tak menyadari akan gejalannya.

  1. Vaksin HPV merupakan pencegahan primer melawan kanker serviks

Kanker serviks adalah satu-satunya kanker yang dapat dicegah. Vaksin HPV memberikan efektivitas perlindungan baik sebesar 93,2%-98,2%.

  1. Tidak ada kata terlambat untuk Vaksin HPV

Imunisasi ini merupakan investasi perlindungan kesehatan. Anak perempuan dapat divaksinasi sejak dini mulai usia 9 tahun.

Jadi.....segera kunjungi rumah sakit terdekat untuk mendapatkan vaksinasi HPV.

Referensi: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/16729554/