Kanker Bukanlah Akhir dari Segalanya

Cerita saya bermula ketika saya mengalami pendarahan yang tidak kunjung berhenti selama dua minggu dan di luar siklus menstruasi. Sebagai seorang perempuan, tentunya kejadian itu terasa ganjil dan  membuat saya curiga bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuh saya. Didorong oleh kecemasan dan kegelisahan, saya tidak menunda-nunda, saya memberanikan diri untuk berangkat dan memeriksakan diri ke dokter.

Masih teringat diagnosa awal yang saya terima saat itu bahwa gejala-gejala aneh yang saya alami diakibatkan oleh miom geburt yang artinya adalah miom yang besar.  Saya pun diberikan obat yang perlu saya konsumsi selama tiga hari berturut-turut untuk menghentikan pendarahan.

Anehnya, setelah tiga hari berlalu, pendarahan saya tidak kunjung berhenti. Ini menimbulkan prasangka bahwa ada yang sesuatu yang tidak beres dalam tubuh saya. Akan tetapi saya tidak bercerita kepada anak-anak karena takut mengganggu konsentrasi mereka dalam menghadapi ujian. Saat itu, tidak ada pilihan lain, saya harus kembali memeriksakan diri ke dokter.

Didorong kerisauan dan rasa penasaran, sebelum saya berangkat ke dokter saya mencoba melakukan pengecekan secara mandiri dengan cara memasukkan jari telunjuk saya ke vagina dan meraba leher rahim saya. Bayangkan betapa shock saya ketika melihat  serpihan – serpihan daging bercampur darah segar yang menempel di telunjuk saya. (Baca: Mengenal Gejala dan Pengobatan Kanker Serviks Stadium 1)

Teror dari kejadian tersebut menyerang psikologis saya ketika itu. Tidak henti-henti saya memikirkan, tentang apa yang sebetulnya terjadi kepada diri saya? dan kenapa saya mendapat gejala-gejala penyakit seperti ini?  Akankah saya bisa sembuh? Apakah ini adalah akhir dari segalanya? Semua pertanyaan ini menghantui benak saya setiap menit, jam, dan setiap harinya. Setelah kejadian ini, akhirnya saya menceritakan kondisi ini kepada keluarga.

Tidak dapat dipungkiri, kejadian ini juga mempengaruhi keluarga saya. Anak-anak saya sangat khawatir terhadap kondisi kesehatan Ibunya. Akan tetapi saya bersyukur bahwa mereka tidak berhenti mendukung dan membesarkan hati saya.  Dengan support mereka, saya kembali melakukan konsultasi ke dokter.

Saat itu dokter merekomendasikan agar saya segera di operasi.  Ini tentunya mengagetkan saya dan seluruh keluarga. Masih teringat jelas saat itu, tanggal 5 Maret 2017, saya melakukan operasi miom. Hasil operasi yang diperlihatkan lewat laporan patologi anatomi menunjukkan bahwa saya memiliki karsinoma berdiferensiasi buruk. (Baca: Berbagai Risiko Komplikasi yang Umum Terjadi Akibat Kanker Serviks)

Saya menanyakan kepada dokter, apa itu karsinoma?

Jawaban dokterpun membuat saya terkejut, karena itu adalah sejenis sel kanker yang ganas.  Sungguh, tidak pernah terbayang sama sekali dalam benak saya bahwa saya akan terkena sakit kanker. Apalagi saya selalu menjaga pola makan dan berolahraga secara teratur. Dokter saya juga saat itu tidak percaya dan mengatakan akan mengobservasi dan akan menghubungi saya kembali.

Sepuluh hari saya menunggu telpon dari dokter, tetapi kabar tidak kunjung datang. Saya menunggu dengan galau dan terus dihantui oleh hasil PA yang menegaskan bahwa karsinoma ini berdiferensiasi buruk. Kata buruk ini membuat saya resah karena saya berpikir bahwa ini harus segera ditindaklanjuti. Akan tetapi saat itu saya hanya bisa menunggu kabar dari dokter di rumah.

Di masa-masa penantian, saya sering berjemur matahari pagi untuk pemulihan pasca operasi. Akan tetapi, saya kembali melihat kejanggalan atas hasil operasi saya. Saya menemukan benjolan di perut beberapa centimeter di atas jahitan operasi. Benjolan ini menonjol ke permukaan sebesar setengah bola ping pong. Sayapun kembali lagi ke dokter dan menanyakan penjelasan lebih lanjut. Untuk mempercepat proses, akhirnya saya meminta untuk dirujuk ke rumah sakit (RS) yang lebih besar. (Baca: Apakah Kanker Serviks Mengakibatkan Perempuan Jadi Tidak Subur?)

Begitu saya dirujuk, saya merasa lebih optimis karena saya tahu bahwa sebagai  RS rujukan nasional, alat-alat di tempat tersebut lebih lengkap dan tenaga medis yang lebih ahli. Di RS baru saya diperiksa dari awal oleh dokter ObGyn dengan meminjam rekam medis dari RS tempat saya operasi.

Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, dokter meminta saya untuk melakukan biopsi di unit patologi anatomi. Tindakan ini dilakukan untuk memastikan apakah betul bahwa apa yang ada di dalam benjolan tersebut, dan hasilnya positif karsinoma sudah dengan metastase (penyebaran).  Alangkah sedih sekali saya mengetahui hal ini terlebih lagi banyak kepercayaan dan pandangan miring di masyarakat tentang penyakit ini.

Kemoterapi dan sinar luar merupakan beberapa bagian yang saya harus jalankan untuk menghadapi dan memerangi penyakit ini. Saat itu saya di vonis mengalami kanker serviks stadium 4A. Keluarga saya meskipun cukup terpukul dengan kondisi saya, tetapi selalu mendukung saya menjalani proses yang panjang dan sulit itu.

Akhirnya, setelah menjalani serangkaian proses panjang yaitu dua puluh lima kali penyinaran dan lima kali kemoterapi (setiap lima kali sinar diselingi satu kali kemoterapi) yang saya jalani, saya merasa jauh lebih baik. Di masa-masa kritis, saya selalu percaya bahwa suatu hari nanti saya akan sembuh dan segera melewati proses panjang dan melelahkan ini. (Baca: Seberapa Ampuh Vaksin HPV untuk Mencegah Kanker Serviks?)

Saya juga tidak mau berkecil hati karena saya yakin dan berserah kepada Tuhan Yang Maha Esa, saya juga sangat bersyukur karena senantiasa mendapat bantuan dari keluarga dan teman – teman saya. Saya juga selalu berusaha ikhlas menjalani rangkaian pengobatan ini.

Pesan saya kepada semua perempuan Indonesia diluar sana, cegahlah kanker serviks dengan vaksinasi HPV dan pemeriksaan papsmear. Tes papsmear ini sangat penting untuk deteksi dini, jadi lakukan secara rutin setahun sekali bahkan sebelum ada keluhan. Saya sendiri kalau bisa mengulang akan melakukan pemeriksaan itu secara rutin dan melakukan vaksinasi.

Sebagai seorang guru, saya juga tidak henti-henti memberikan edukasi tentang kanker serviks dan pencegahnya kepada murid-murid saya. Juga jangan pernah lupa untuk jalani hidup sehat dan olahraga yang teratur. (Baca: Lakukan 4 Pola Hidup Sehat Mencegah Kanker Serviks)

Sedangkan bagi kawan-kawan yang sudah terkena kanker, pesan saya untuk tetap optimis dan tetap jalani pengobatannya. Jangan sekali-sekali tinggalkan proses medis karena dokter adalah “orang pintar” yang sesungguhnya karena mereka adalah pakar yang ahli dibidangnya.

Pasien kanker juga sebaiknya bergabung dengan komunitas supaya bisa saling berbagi informasi dan saling menguatkan satu sama lain. Percayalah bahwa Anda tidak sendiri. Kanker bukanlah akhir dari segalanya. Dengan tetap berjuang dan tetap tersenyum, saya yakin semua pasti ada jalan keluar dan segala kesulitan dapat terlewati.

Narasumber : Ibu Widiarti Rahayu

Umur            : 53 tahun

 

Dapatkan Notifikasi Artikel Terbaru!

Masukkan email kamu untuk mendapatkan pemberitahuan ketika ada artikel terbaru!