Apakah Kanker Serviks Mengakibatkan Perempuan Jadi Tidak Subur?

Kanker serviks menjadi momok bagi perempuan di seluruh dunia. Selain bisa mengancam nyawa, ada anggapan juga bahwa kanker serviks memengaruhi kesuburan atau tidak mampu memiliki keturunan. Namun, apakah anggapan ini benar?

Sekilas tentang HPV, virus penyebab kanker serviks

Sebagian besar kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV). Kanker ini menyerang mulut dan leher rahim akibat perubahan sel yang abnormal pada serviks, hasil infeksi virus HPV. Virus ini seringnya ditularkan secara seksual, namun juga bisa menular dari kontak kulit ke kulit (skin to skin).  (Baca: Siapa Saja yang Berisiko Terkena Kanker Serviks?)

Ada lebih dari 100 jenis HPV yang berbeda. Dari jumlah tersebut, sekitar 40 tersebar selama hubungan seks dan sekitar 15 dapat menyebabkan kanker serviks. HPV tipe 16 dan 18 adalah tipe yang paling banyak ditemukan sebagai penyebab kanker serviks.

Bradley J. Monk, MD, Profesor di Divisi Onkologi Ginekologi di University of California Irvine School of Medicine mengatakan, penyebaran HPV sangat umum, hampir 75 persen perempuan mengalaminya dan baru terdeteksi di usia 50-an tahun. Hal ini dikarenakan virus ini bisa mengendap dalam tubuh tanpa menunjukkan gejala apapun.

Penyebaran HPV begitu luas sehingga bahkan hanya memiliki satu pasangan seksual pun sudah bisa meningkatkan risiko tertular virus ini. Hampir 30 persen wanita dinyatakan positif terinfeksi HPV dalam waktu satu tahun berhubungan seks dengan pasangan mereka. (Baca: Seberapa Dekat Kita Dengan HPV? Ini 5 Faktor Yang Bikin Kamu Lebih Berisiko Terinfeksi)

Apakah kanker serviks memengaruhi kesuburan wanita?

Virus HPV sendiri seharusnya tidak memiliki dampak besar pada kesuburan. Namun, ada penelitian yang menemukan bahwa pasien yang positif HPV cenderung sulit hamil dibandingkan mereka yang tidak memiliki virus tersebut.

Peneliti menduga, embrio mungkin memiliki kesulitan berkembang pada perempuan yang sistem kekebalannya terjangkit virus HPV. Namun, pengobatan sel prakanker lah yang justru biasanya meningkatkan risiko Anda untuk tidak dapat hamil. (Baca: Ingin Menikah Muda? Lindungi Diri dengan Vaksin HPV)

Ada baiknya, ketika Anda terdiagnosis menderita kanker serviks, konsultasikan pada dokter Anda untuk mengetahui perawatan terbaik apa yang sebaiknya Anda jalani. Biasanya dokter akan memberikan beberapa pilihan yang dapat Anda ambil supaya tidak mengganggu kesuburan.

Histerektomi dan radioterapi adalah pengobatan kanker serviks yang meskipun efektif, bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan peluang Anda untuk hamil. Histerektomi adalah pengobatan kanker serviks dengan cara mengangkat rahim Anda. Sedangkan radioterapi merupakan jenis pengobatan yang akan menghambat dan mencegah kerja ovarium, oleh karenanya setelah pengobatan ini kemungkinan besar Anda tidak dapat hamil. (Baca: Kanker Serviks Memaksa Elly Mawati Merelakan Rahimnya Diangkat)

Apa saja pengobatan kanker serviks yang tidak memengaruhi kesuburan?

Dalam beberapa kasus, perempuan dengan kanker serviks masih bisa hamil dan memiliki anak. Pengobatan yang membantu menjaga kesuburan ini belum tentu cocok pada tiap perempuan. Untuk itu, konsultasikan pada dokter Anda untuk mengetahui manakah pengobatan yang paling cocok dengan Anda.

Jika kanker Anda masih dalam stadium awal, ada 3 cara yang bisa dilakukan yakni radical trachelectomy, cone biopsy, dan LLETZ. Ketiganya masih memungkinkakan Anda untuk berkesempatan memiliki anak. (Baca: Kenali! Pentingnya Vaksin HPV Bagi Anak Perempuan)

1. Radical trachelectomy
Dilakukan dengan cara menyingkirkan semua sel kanker dengan meninggalkan bukaan di dalam serviks. Bagian tersebut kemudian dijahit dan menyisakan lubang kecil untuk aliran menstruasi Anda. Cara ini diharapkan dapat mendukung kehamilan hingga kelahiran bayi melalui operasi sesar. Namun, cara ini meningkatkan risiko melahirkan bayi prematur.

2. Cone biopsy
Dilakukan dengan mengeluarkan sepotong serviks berbentuk kerucut. Pemotongan ini dilakukan di bagian sel serviks yang paling mungkin menjadi abnormal dan menjadi pemicu kanker. Jika Anda melakukan pengobatan ini, ada kemungkinan bayi yang Anda kandung nantinya mengalami kelahiran prematur.

3. LLETZ (Large Loop Excision of the Transformation Zone)
Zona transformasi adalah area serviks di mana sel abnormal cenderung berkembang. LLETZ menghilangkan sel abnormal di daerah tersebut, biasanya dengan anestesi lokal. Serupa dengan cone biopsy, perawatan ini juga memungkinkan Anda mengalami kelahiran prematur. Hal ini bergantung pada jumlah jaringan leher rahim yang diambil.

Cegah kanker serviks dengan vaksinasi

Menurut data Globocan tahun 2012, lebih dari satu perempuan di Indonesia meninggal setiap jamnya karena kanker serviks, dan terdapat 58 kasus baru yang dilaporkan setiap harinya. Dari semua kasus baru, 70% kasus yang ditemukan adalah perempuan dengan kanker serviks stadium lanjut. Angka ini menunjukkan kurangnya kesadaran perempuan Indonesia mengenai pentingnya pencegahan serta deteksi dini suatu penyakit.

Badan Kesehatan Dunia menyatakan, tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kanker serviks ialah melalui vaksinasi HPV. Vaksin HPV melindungi Anda terhadap empat jenis HPV yang paling serius, dua yang menyebabkan kanker serviks dan dua yang menyebabkan kutil kelamin. Vaksinasi membuat tubuh membentuk antibodi terhadap virus HPV, sehingga virus yang masuk akan mati dan tidak sampai menimbulkan kanker. (Baca: Satu Vaksin HPV, Cegah Empat Jenis Kanker)

Vaksin HPV telah terbukti sangat efektif untuk mengurangi infeksi HPV. Sebuah studi baru dari University of Alabama di Birmingham menemukan bahwa perempuan yang menerima vaksin tersebut memiliki kemungkinan lebih dari 40 persen untuk memiliki hasil Pap normal dibandingkan mereka yang tidak divaksinasi. Vaksin ini direkomendasikan untuk dilakukan sedini mungkin sejak perempuan berusia 9 tahun. Federal Drug Administration (FDA) mempertimbangkan untuk memperluas jangkauan vaksin HPV hingga usia 5 tahun.

Selain vaksinasi, deteksi dini juga diperlukan untuk mencegah sel kanker semakin berkembang. Tes Pap atau Pap Smear digunakan untuk membantu mendeteksi sel abnormal pada lapisan serviks sebelum mereka memiliki kesempatan menjadi prakanker serviks dan selanjutnya berkembang menjadi kanker. Tes ini dilakukan bagi mereka yang sudah menikah atau sudah pernah melakukan hubungan seksual.

Berbagai tindakan pencegahan sangat bijak dilakukan karena kesehatan merupakan investasi masa depan Anda.

Sumber:
HPV, Fertility, and Cervical Cancer
http://www.parents.com/getting-pregnant/pre-pregnancy-health/general/hpv-cervical-cancer-and-protecting-your-fertility/ diakses pada 5 Desember 2017
Virus HPV Mengintai Siapa Saja dan Bagaimana Caranya?
https://cegahkankerserviks.org/virus-hpv-mengintai-siapa-saja-dan-bagaimana-caranya/ diakses pada 5 Desember 2017
Kenali HPV, Kanker Serviks, dan Pencegahannya
https://cegahkankerserviks.org/kenali-hpv-kanker-serviks-dan-pencegahannya/ diakses pada 5 Desember 2017
Cervical Cancer and Fertility
https://www.webmd.boots.com/cancer/cervical-cancer/features/cervical-cancer-fertility diakses pada 5 Desember 2017
Fertility and Cervical Cancer
http://www.cancerresearchuk.org/about-cancer/cervical-cancer/living-with/fertility diakses pada 5 Desember 2017