Pilih Mana: Vaksin atau Risiko Tertular HPV?

Dalam sebuah diskusi di Jakarta, dr. Revita dari YKI (Yayasan Kanker Indonesia) berbagi pengalaman. “Ada seorang nenek usia 75 tahun yang ingin divaksin HPV, agar terhindar dari kanker serviks,” ujar dr. Revi. Sang nenek adalah penyintas (survivor) kanker payudara. Ketika ia mendengar penjelasan bahwa kanker serviks bisa dicegah, ia pun mau segera divaksin.

Kesadaran si nenek untuk melindungi diri, patut diacungi jempol. Kita yang masih muda, tidak boleh kalah dong.

Hampir 100% kanker serviks disebabkan oleh infeksi HPV, tapi tidak semua tipe HPV bisa menyebabkan kanker. Hanya tipe onkogenik atau high risk yang menyebabkan kanker. “Yang paling berbahaya dan paling sering menyebabkan kanker serviks yakni tipe 16 dan 18,” ujar dr. Andi Darma Putra, Sp.OG(K).

Dan jangan lupa, HPV tipe onkogenik juga bisa menyebabkan berbagai kanker lain termasuk kanker vagina, vulva, anal, penis, dan orofaring. Intinya, HPV onkogenik bisa menimbulkan kanker pada berbagai organ tubuh yang terlibat dalam aktivitas seksual.

 HPV yang non onkogenik tidak menyebabkan kanker, tapi bisa menimbulkan penyakit yang disebut kondiloma atau kutil kelamin. Yang paling sering menyebabkan penyakit ini utamanya tipe 6 dan 11. Gawatnya lagi, kutil juga bisa menjangkiti tenggorokan bayi bila ibu memiliki HPV, dan cairan vagina ibu tertelan oleh bayi dalam proses persalinan.

Ngeri ya. Makanya, infeksi HPV tidak bisa dianggap sepele. Tapi, kita beruntung; infeksi HPV sudah bisa dicegah dengan vaksinasi. “Perlindungan vaksin HPV terhadap infeksi HPV tipe 16 dan 18 dalam jangka panjang hampir 100%,” tutur dr. Andi.

Perlindungan terhadap HPV yang dihasilkan vaksin kuadrivalen setidaknya sudah terbukti hingga 12 tahun sejak vaksin ini pertama kali digunakan1. Penelitian lain menemukan, vaksin yang sama bisa mencegah kondiloma dan perubahan sel-sel anus akibat infeksi HPV yang persisten atau terus menerus2.

Kembali ke cerita si nenek di atas, dr. Revita menyarankan agar nenek melakukan pemeriksaan skrining saja apabila ingin memastikan kondisi serviksnya, (bila hasilnya baik maka tidak usah dilakukan rutin setiap tahun, boleh stop ref: https://www.acog.org/Patients/FAQs/Cervical-Cancer-Screening) karena vaksin sebenarnya diperuntukkan bagi usia 9-45 tahun. Bukannya vaksin tidak aman untuk usia nenek, tapi mungkin manfaatnya kurang maksimal. Toh, 75 tahun bukan lagi usia berisiko terkena kanker serviks.

 Nah, jangan mau kalah dengan nenek. Mumpung masih muda, kita masih punya kesempatan melindungi diri. Hayo, pilih mana: vaksin atau risiko tertular HPV?

Referensi

  1. Kjaer SK, Nygård M, Dillner J, et al. A 12-year follow-up on the long-term effectiveness of the quadrivalent human papillomavirus vaccine in 4 Nordic countries.Clinical Infectious Diseases 2018; 66(3):339-345.
  2. Giuliano AR, Palefsky JM, Goldstone S, et al. Efficacy of quadrivalent HPV vaccine against HPV Infection and disease in males.New England Journal of Medicine 2011; 364(5):401-411.

 

Dapatkan Notifikasi Artikel Terbaru!

Masukkan email kamu untuk mendapatkan pemberitahuan ketika ada artikel terbaru!