Kanker Serviks, Pencegahan Primer dan Sekunder

Kanker serviks bisa dicegah dengan vaksin. Inilah pencegahan primer. Untuk pencegahan sekunder, lakukan skrining rutin.

Kanker serviks itu penyakit yang unik. Berkembangnya lama sekali, sehingga kita punya banyak kesempatan untuk mencegahnya. Ada dua jenis pencegahan kanker serviks, yakni primer (dengan vaksinasi HPV) dan sekunder (deteksi dini).

Pencegahan primer

Organisasi Kesehatan Dunia WHO menyebut, hanya 50-60% perempuan mengembangkan antibodi serum terhadap HPV setelah infeksi alami1. Artinya, setengah dari kita tidak kebal terhadap HPV meski sudah pernah terinfeksi dan sembuh dengan sendirinya.

Sedangkan vaksin HPV menunjukkan efikasi >90% terhadap infeksi HPV tipe 16 dan 18 yang persisten (menetap), pada perempuan yang menerima tiga dosis HPV1. Berdasarkan penelitian, hampir 100% perempuan usia 15-26 tahun memiliki antibodi HPV dalam sau bulan setelah dosis vaksin ketiga. Kadarnya lebih tinggi 10-104 kali dibandingkan yang ditemukan pada infeksi alami.

Vaksin HPV mencakup tipe 16 dan 18 yang paling sering menyebabkan kanker, dan tipe 6 dan 11 yang sering menyebabkan kutil kelamin. Vaksin HPV sudah berusia hampir 12 tahun, dan penelitian menunjukkan, antibodi yang dirangsang oleh vaksin masih bagus hingga saat ini.

Efikasi vaksin lebih baik lagi bila diberikan pada usia muda, 9-13 tahun. Apalagi di usia tersebut, vaksin cukup diberikan dalam dua dosis saja. Di berbagai negara, telah dilakukan program vaksinasi untuk anak perempuan dalam rentang usia ini. Di Indonesia, pilot project-nya mulai dilakukan tahun lalu di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya. Semoga bisa segera menjadi program nasional ya, Moms! (Baca: Kenali HPV, Penyebab Kanker Serviks, dan Pencegahannya)

Pencegahan sekunder

Ladies, karena kanker serviks tidak menimbulkan gejala apapun pada tahap awal, maka yang bisa kita lakukan untuk menemukannya sedini mungkin adalah dengan skrining. Disebutkan oleh dr. Andi Darma Putra, Sp.OG, semua perempuan yang sudah aktif berhubungan seksual perlu melakukan skrining rutin.

Dimulai sejak 3 tahun setelah kontak seksual pertama kali. Bila hasil tes normal, tes cukup diulang 3-5 tahun kemudian. Skrining perlu rutin diulang hingga kita tua, bahkan setelah kita menopause dan/atau tidak lagi aktif berhubungan seksual.

Skrining bisa dilakukan dengan Pap smear. Pilihan yang lebih mudah dan murah (bahkan gratis) yakni dengan IVA (inspeksi visual asam asetat), yang bisa dilakukan di seluruh Puskesmas di Indonesia.

Mau yang lebih canggih? Ada pemeriksaan HPV DNA. Pemeriksaan ini idealnya dikombinasi (co-testing) dengan Pap smear. Bila hasil pemeriksaan HPV DNA negatif, cukup diulang 5 tahun kemudian. (Baca: Satu Vaksin HPV, Cegah Empat Jenis Kanker)

Referensi:

WHO. Human Papilloma Virus and HPV Vaccine: A Review. http://www.who.int/bulletin/volumes/85/9/06-038414/en/

 

Dapatkan Notifikasi Artikel Terbaru!

Masukkan email kamu untuk mendapatkan pemberitahuan ketika ada artikel terbaru!