Untung Endang Suryani: Vonis Kanker Serviks Stadium 2B Sempat Membuat Saya Lumpuh

Gejala Awal Muncul Keputihan dan Pendarahan

Ketika itu saya tidak menyangka kalau apa yang saya alami adalah gejala kanker serviks. Semuanya bermula ketika Desember 2016 lalu saya mengalami keputihan yang tidak wajar. Agak aneh, karena bentuknya cair dan tidak berwarna atau bening.

Waktu itu saya tidak berpikir panjang. Mungkin ini adalah gejala menopause karena usia saya menjelang 51 tahun. Dan diskusi dengan teman juga mengatakan kemungkinannya adalah ciri-ciri dari menopause.

Tetapi, ternyata keputihan itu tidak berhenti. Sempat juga setelah itu di bulan Januari 2017 saya mendapatkan menstruasi selama empat hari. Namun, setelah itu keputihan kembali saya alami dan terus berulang.

Buat mengobati sesaat, saya mencoba dengan cara meminum jamu yang dibuat sendiri. Sengaja saya blender kunyit dan kunir putih untuk membuat kunir asam. Sehari saya minum tiga kali 200 ml. Tapi tetap saja keputihan tadi tidak juga berhenti.

Sampai akhirnya, pada Februari 2017 saya mengalami menstruasi yang hebat selama empat hari. Darah yang keluar dalam bentuk gumpalan yang sangat banyak sekali. Tetapi di bulan berikutnya siklus haid pun berhenti. (Baca: Mengenal 4 Jenis Kanker Serviks Stadium Awal)

Ciri Pendarahan Hebat

Saya kira mungkin ini penghabisan menjelang menopause. Tapi ternyata di bulan Mei 2017 saya kembali mengalami menstruasi. Awalnya haid saya sedikit-sedikit seperti flek. Tapi saat hari ke empat menjadi banyak sekali. Bentuknya gumpalan darah besar dan kecil. Ketika itu saya sampai harus memakai pembalut rangkap.

Tapi setelah 4 hari berhenti pendarahan.  Pas awal puasa tanggal 25 Mei,  flek kembali muncul lagi selama dua hari. Selanjutnya pendarahan kembali banyak lagi. Bahkan lebih banyak dari yang sebelumnya. Hingga akhirnya harus memakai popok sekali pakai yang harus diganti per dua hingga tiga jam sekali.

Saya sampai lemas dan tidak bisa bangun. Kondisi badan panas dan kepala pusing, bahkan untuk bicara pun saya tidak kuat. Segera saya minta adik untuk mengantar ke rumah sakit terdekat. Saya tidak bisa jalan sama sekali sehingga harus ditandu dan akhirnya memakai kursi roda di rumah sakit. Kondisi saya sudah kehabisan darah karena ketika dicek kadar HB darah saya hanya 2,6 gr/dL.

Padahal setiap wanita itu normalnya punya HB 12-16 gr/dL. Akhirnya saya harus mendapatkan tambahan darah hingga delapan kantong darah sebanyak 330 ml. Waktu itu dokter sempat mengatakan suspect kanker serviks. Saya kaget dan setengah tidak percaya.

Dokter pun merujuk saya untuk ke rumah sakit besar. Beberapa tahap pemeriksaan saya lakukan, yaitu cek darah, ultrasonografi, dan termasuk biopsi. Ketika itulah dokter memvonis saya terkena kanker Serviks stadium 2B dengan jenis kanker ganas.

Hasil USG menyebut kalau luasan kanker itu sudah seperempat luas serviks saya. Disitulah saya merasa sangat terpukul. Kondisi fisik saya pun makin memburuk. Pendarahan saya makin menjadi dan mengalami muntah-muntah juga. Saya pun segera dirujuk ke Instalasi Gawat Darurat. Kondisi saya memburuk dan sampai tidak bisa bangun, tidak bisa berjalan dan harus menggunakan kursi roda. Saya sangat syok. Tidak mau makan dan sedih karena merasa tidak ada harapan. Ketika itu, saya tak berhenti menangis.

Dengan kondisi Kanker Serviks stadium 2B, saya tidak mungkin untuk menjalani pengobatan dengan operasi. Jadi pengobatan yang bisa dijalani adalah dengan kemoterapi dan sinar radioterapi luar dan dalam. (Baca: Saat Hasil Skrining Abnormal, Apakah Saya Kena Kanker Serviks?)

Prosedur Kesehatan

Sebelum itu ada beberapa prosedur yang harus saya jalani,  seperti rontgen,  konsultasi ke poli jantung, penyakit dalam dan diteropong. Baru selesai rontgen dan konsul ke poli jantung, hari lebaran pertama saya mengalami pendarahan hebat. Ketika itu keluar gumpalan darah yang sangat besar, sebesar bongkahan batubata.  Saya menjerit histeris lalu kembali masuk IGD. Saat itulah saya sempat putus harapan.

Bongkar pasang tampon bolak balik sampai pernah pingsan karena sudah tidak kuat menahan sakit yangg teramat sangat. Saya pernah minta mati saja, karena sudah tidak sanggup merasakan sakitnya.

Kemudian dokter memberikan saya sinar lima kali karena kondisinya emergency. Pendarahan berhenti dan saya kembali dirujuk ke poli. Selanjutnya saya seharusnya menjalani sinar radioterapi lagi.

Tapi karena daftar tunggu lama sampai dua bulan, akhirnya dokter menyarankan untuk di kemoterapi dulu. Saya akhirnya memutuskan memotong rambut menjadi pendek sekali agar terhindar dari stress.

Selama proses kemoterapi itu saya mual dan malas makan. Makanan yang bisa masuk hanya bumbu rujak dan jus buah ataupun sayur yang dibuat adik saya. Berat badan saya turun sampai 25 kg.

Proses pengobatan yang saya alami masih sangat panjang. Untuk sinar saja harus dilakukan hingga 25 kali selama kurun waktu dua bulan. Prosesnya lama karena bersamaan itu sempat mengalami pendarahan lagi dan harus jugal beberapa pemeriksaan lainnya.

Jadi setelah lima hari selama sepekan melakukan sinar/radioterapi dari Senin-Jumat, saat Senin berikutnya akan dicek darah apakah HB saya bagus atau tidak. Kalau hasilnya bagus bisa lanjut sinar lagi, kalau tidak harus transfusi darah.

Saat melakukan sinar radioterapi ke-16 pendarahan parah terjadi bahkan darahnya berbentuk gel. Waktu itu HB saya 4,6 gr/DL sehingga harus transfusi 15 kantong dan baru boleh pulang opname kalau HB 13,6 gr/DL.

Secara total dari awal hingga akhir saya mendapatkan transfusi darah hingga 60 kantong. Saat sinar ke-18 pendarahan berhenti, proses penyinaran dilanjutkan sampai 25 kali.

Kemudian lanjut ke sinar dalam yang proseduralnya sebanyak 4 kali. Jadi ada semacam alat yang  dimasukkan lewat vagina ke serviks buat disemprotkan obat yang ditargetkan ke sel kanker. Prosesnya bagi yang tidak operasi harus di bius lokal.

Pada waktu proses sinar dalam ketiga, suntikan bius saya sampai patah lima kali. Sakitnya setengah mati, karena ini saya jalani setiap minggu. Akhirnya harus disuntikkan ke tulang ekor. Rasa sakitnya sampai terasa mendengung di telinga.

Setelah selesai melakukan sinar dalam keempat, vagina saya menciut efek dari pengobatan itu.

Proses sinar dalam akhirnya selesai saya jalani dan dokter kembali memeriksa kondisi sel kanker. Hasilnya masih ada sel kanker sedikit. Tetapi dokter meminta di observasi dulu karena pengobatan baru bereaksi selama tiga bulan. (Baca: Ini 5 Cara Pengobatan Kanker Serviks Stadium Awal)

Sembuh dari Kanker Serviks

Nah di bulan ketiga, saat kembali memeriksakan diri dan dokter mengatakan bahwa sel-sel kanker sudah bersih. Saya senang sekali dan bersyukur sudah melewati semua proses pengobatan tersebut.

Dengan semua yang terjadi ini saya merasa tidak boleh menyerah dan harus tetap semangat. Terutama setelah bertemu dengan sesama penyintas kanker di CISC (Cancer Information and Support Center).

Setelah masuk grup saya bertemu dan melihat survivor seperti saya banyak. Bahkan yang lebih parah dari saya juga banyak. Di CISC kami saling mendukung  dan menguatkan satu sama lain. Saat sinar dalam pertama saya pun ditemani dari sesama survivor yang memberikan support.

Dengan dukungan sesama survivor, saya diingatkan tidak boleh lemah. Karena kalau begitu maka sama saja seperti saya kalah dan sang virus bisa menyerang. Dukungan dari teman dan keluargalah yang menguatkan saya.

Lalu sebagai penyintas kanker serviks, saya pun kini konsisten menjalankan hidup sehat. Yaitu dengan olahraga teratur, menjaga asupan makan dengan menghindari makanan pengawet, cepat saji, dan MSG.

Pesan saya kepada semua perempuan, harus waspada kalau mengalami keputihan berlebihan. Segera konsultasi ke dokter. Jangan coba-coba meminum jamu atau obat-obatan lainnya yang tidak direkomendasikan dokter.!! Sebagai pencegahan dari kanker serviks, lakukan deteksi dini dan Vaksinasi HPV.

Narasumber : Ibu Untung Endang Suryani

Usia : 52 tahun

Dapatkan Notifikasi Artikel Terbaru!

Masukkan email kamu untuk mendapatkan pemberitahuan ketika ada artikel terbaru!